“Top Working” INOVASI TEKNOLOGI UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS TANAMAN JERUK

Teknik top working sudah banyak dipraktekan pada beberapa jenis komoditi buah-buahan sebagai upaya memperbaiki kualitas tanaman maupun penyeraganan varietas, termasuk pada komoditi jeruk. Teknik top working dapat diterapkan untuk mengganti suatu varietas tanaman dengan varietas lain yang dapat menghasilkan buah lebih berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi tanpa harus membongkar/mematikan tanaman yang sudah ada. Tanaman yang sudah ada dimanfaatkan sebagai batang bawah, sehingga dapat mepercepat pertumbuhan dan masa juvenile tanaman.

Jeruk konde merupakan salah satu dari beberapa jenis jeruk yang banyak ditanam di wilayah garut dan dari sisi kualitas buah maupun nilai ekonomi merupakan nomor tiga setelah jeruk keprok garut (JKG) dan jeruk siem. Jeruk keprok garut populer dan banyak digemari karena memiliki rasa yang khas serta sudah menjadi salah satu varietas unggulan nasional yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 760/KPTS.240/6/99 tanggal 22 Juni 1999. Sebagai komoditas unggulan khas daerah, Jeruk keprok Garut mempunyai peluang tinggi untuk dikembangkan karena keunggulan komparatif dan kompetitifnya serta adanya peluang pasar yang masih terbuka luas. Harga jual jeruk keprok garut berkisar antara Rp 12.000 – 18.000 per kg, sedangkan jeruk siem dan konde sekitar Rp 5.000 – 8.000 per kg. Produksi jeruk keprok garut berkisar antara 40 – 60 kg per pohon per tahun. Sampai saat ini populasi jeruk konde, siem dan jenis lainnya masih mendominasi yaitu mencapai 67 persen, sedangkan populasi jeruk keprok garut hanya 33 persen.

Mulai tahun 2006 pemerintah daerah kabupaten Garut meluncurkan program penanaman sejuta pohon jeruk keprok garut sampai tahun 2011 dan diharapkan swasembada jeruk garut dapat dicapai pada tahun 2016. Teknologi top working dapat membantu upaya mempercepat pencapaian target program sejuta pohon serta dapat mengatasi masalah kelangkaan seedling untuk batang bawah dan ketersediaan bibit jeruk yang berkualitas. Teknik Top Working dilakukan dengan memanfaatkan batang atas (entres) dari jenis keprok garut yang diambil dari Blok Pondasi Mata Tempel (BPMT). Balai Benih Hortikultura (BBH) Cisurupan mempunyai Blok Pondasi Mata Tempel (BPMT) jeruk keprok garut dan bibit yang sudah diindeksing, bekerja sama dengan Balitjestro, Tlekung, Jawa Timur dan dinyatakan bebas penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD).

Penerapan Teknologi top working pada tanaman jeruk yang sudah tua lebih mudah menggunakan cara sambung celah (cleft grafting), cara sambung Kulit (bark grafting) sulit dilakukan karena kulit batang jeruk relative tipis dan susah dikelupas. Berdasarkan hasil uji coba pelaksanaan top working di kebun petani, sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas tanaman jeruk mencapai tingkat keberhasilan rata-rata diatas 30%. Tingkat keberhasilan tersebut dilihat dari pertumbuhan tunas entres (batang atas) sampai umur 3,5 bulan setelah penyambungan. Batang bawah yang digunakan adalah jenis jeruk konde, masing-masing berumur 1,5-2 tahun dengan tingkat keberhasilan : 55,30%, umur 3 tahun : 42,31% dan umur 4,5 tahun mencapai 30,30%. Pemotongan cabang lain dari batang bawah bisa juga dilakukan setelah tunas batang atas (entres) pertumbuhannya baik (normal) dan sehat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s