FEROMON-EXI, FEROMON SEKS YANG SUKSES MENGENDALIKAN HAMA ULAT BAWANG

Feromon-Exi
Feromon exi, penangkal hama ulat bawang

Feromon-exi, produk feromon sex yang khusus digunakan untuk mengendalikan ulat bawang (Spodoptera exigua), sukses diujicobakan di beberapa daerah di Indonesia, yaitu : Cirebon (25 ha), Brebes (25 ha), Nganjuk (30 ha), Medan, Samosir dan Bali. Kajian terhadap teknologi pengendalian ulat bawang menggunakan feromon ini dilakukan oleh Dr. I Made Samudra, peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen), dan telah menginjak tahun ketiga.

Sukses aplikasi pengendalian hama ulat bawang ini diawali pada perconaan sebelumnya di Desa Limbangan Kulon,Kecamatan Brebes dengan luas areal percobaan 1 hektar. Kemudian Menteri Pertanian menginstruksikan untuk diujicobakan dalam skala yang lebih luas.

Feromon merupakan senyawa yang dilepas oleh salah satu jenis serangga yang dapat mempengaruhi serangga lain yang sejenis dengan adanya tanggapan fisiologi tertentu. Feromon serangga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan serangga hama baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu digunakan dalam hal: pemantauan serangga hama (monitoring), perangkap massal (mass trapping), pengganggu perkawinan (matting distruption), maupun kombinasi antara feromon sebagai atraktan dengan insektisida atau patogen serangga sebagai pembunuh (attracticide).

Feromon seks mulai diaplikasikan saat tanaman berumur satu minggu, untuk selanjutnya pemasangan kedua dilakukan saat tanaman berumur 27 hari. Perangkap feromon berupa stoples plastik yang dirancang khusus, di mana di bagian atas digantungkan senyawa feromon seks dan pada bagian bawahnya diiisi dengan air sabun. Perangkap feromon ditempatkan pada pinggiran tanaman bawang, secara acak dan berjarak 15 m dari masing-masing perangkap. Perangkap feromon ditempatkan pada ketinggian 30 cm di atas permukaan tanah.

Hasil percobaan di lapang menunjukkan bahwa tanaman bawang yang tidak diperlakukan dengan feromon seks membutuhkan penyemprotan insektisida sebanyak 12 kali (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong). Hal ini berarti setiap 2 hari sekali harus dilakukan penyemprotan untuk mengendalikan hama pada tanaman bawang.

Sementara itu tanaman bawang yang diperlakukan dengan feromon seks hanya disemprot sebanyak 3 kali (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong). Dalam hal ini penyemprotan kedua dilakukan karena saat percobaan dilakukan terjadi serangan Grandong di pertanaman bawang. Rata-rata dalam semalam tidak kurang dari 200-an serangga jantan dapat terperangkap di dalam perangkap feromon.

Made Samudra mengungkapkan, dibandingkan dengan cara pengendalian yang lainnya penggunaan feromon seks memiliki beberapa kelebihan:

• Teknologi ini bersifat ramah lingkungan, tidak mengakibatkan
terjadinya pencemaran lingkungan.
• Bersifat selektif untuk spesies hama tertentu dan mampu menekan
populasi serangga secara nyata.
• Biaya yang dialokasikan lebih murah.

Sebagai perbandingan penggunaan perangkap lampu membutuhkan biaya sekitar 1-2 juta rupiah tiap hektarnya, belum termasuk tambahan biaya untuk penyemprotan insektisida. Sementara itu, penyemprotan insektisida secara intensif dapat memakan biaya hingga 6 juta rupiah.
Teknologi feromon seks ini memiliki prospek yang sangat bagus di masa mendatang karena masih banyak feromon dari serangga hama yang lain yang belum dikaji. Dengan keberhasilan penggunaan teknologi feromon seks ini, diharapkan nantinya dapat berfungsi sebagai pilot project untuk pengembangan lebih lanjut bagi daerah lainnya (sumber http://www.litbang.deptan.go.id/).

Wah wah wah wah ……………sangat pantastis dan menjanjikan …………….begitu kata petani bawang merah. Tetapi sayang seribu kali sayang, karena kesuksesan tersebut tidak bisa segera dinikmati pula oleh para petani bawang yang masih menderita karena kerusakan oleh serangan hama ulat bawang dan terus berlanjut sampai sekarang. Katanya, sebagian dari para petani bawang merah sudah mendengar informasi mengenai keampuhan “Feromon-exi” tersebut, tetapi manakala membutuhkan sulit untuk menemukan atau mendapatkan barang tersebut. “Seperti cerita dalam dongeng saja”, begitu kata Pa Yusuf, salah seorang tokoh petani dari Kabupaten Cirebon.

Memang sudah diakui, Badan Litbang Pertanian sudah banyak menghasilkan teknologi baru, khususnya dibidang pertanian, tetapi kadang-kadang disatu pihak respon pengguna (petani) begitu tinggi dan cepat, dipihak lainnya hanya menyampaikan informasinya saja, barangnya tidak ada. Jadi sebenarnya tidak adil kalau selalu dikatakan bahwa informasi teknologi maupun penerapan teknologi sulit diadopsi di tingkat petani. Padahal penghasil teknologinya sendiri tidak menyadari ada hal-hal yang membuat para petani kecewa.

Sampai saat ini petani bawang merah masih menggunakan pestisida/insektisida kimia secara berlebihan, hanya untuk mengendalikan 1 jenis hama menggunakan 3-5 jenis insektisida yang diaplikasikan setiap 2 hari sekali. Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh petani untuk membeli pestisida kimia ? berapa besar dampak negative terhadap lingkungan (manusia, binatang lainnya (predator, serangga penyerbuk), polusi udara, kerusakan lahan, pencemaran air dan lain sebagainya) ? Maka petani disarankan untuk memanfaatkan teknologi pengendalian hama ulat bawang yang ramah lingkungan, tidak ada yang dirugikan …. semua pihak diuntungkan …. cobalah mulai sekarang.

Feromon exi sudah diproduksi dan bisa dipesan melalui email ke arsasaputra72@gmail.com. Pesanan akan dikirim via TIKI atau JNE (sesuai kesepakatan), harga Rp 378.000,- per 2 dus (isi 10 pc tanpa toples), sudah termasuk ongkir. Pembayaran melaui transfer ke Bank BNI.

46 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s