ULAT GRAYAK PADA BAWANG MERAH

Serangan ulat grayak pada tanaman bawang membuat petani resah. Bahkan saat Presiden RI Jokowi bertemu dengan petani bawang merah di Kecamatan Larangan Brebes, petani sempat mengadukan kegelisahan mereka.

Apa yang menyebabkan tanaman bawang petani terserang hama tersebut ? Dari hasil kajian Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, ternyata kebiasaan petani bawang merah di Brebes yang kerap menyemprotkan pestisida membuat hama ulat grayak tersebut kebal terhadap pengendali hama (Sumber: Tabloid Sinar Tani, 14 April 2016)

Ulat bawang (Spodoptera exigua L.) atau petani kerap menyebut dengan ulat grayak ini merupakan ngengat dengan sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago (ulat dewasa) betina biasanya meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berkisar 50–150 butir.

Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1.000 butir. Telur dilapisi bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur (lonjong) berukuran 0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva S.exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Kehilangan hasil akibat serangan hama berkisar antara 20-100 persen.

Hama ulat grayak dapat merusak tanaman lainnya seperti: asparagus, kacang-kacangan, bit, brokoli, bawang putih, bawang merah, cabai, kentang, lobak, bayam dan tomat.

Banyak Cara

Teknologi pengendalian hama ulat grayak yang sering menyerang tanaman bawang merah sudah banyak diteliti. Misalnya dengan pemasangan lampu perangkap (light trap). Petani di wilayah Cirebon dan Brebes sudah banyak melaksanakannya.

Di samping itu juga dapat menggunakan Feromon Exi yang dapat diaplikasikan pada area pertanaman, setiap hektar dibutuhkan 12-24 perangkap. Feromon Exi ini dipasang mulai saat tanam dan dapat tahan sampai dua bulan atau satu musim tanam. Pengendalian hama menggunakan Feromon Exi merupakan pilihan yang tepat, karena selain biayanya jauh lebih murah, ramah lingkungan dan juga tidak membunuh serangga lain yang menjadi musuh alami bagi beberapa jenis hama tanaman. Waktu pemasangan Feromon Exi di lapangan sangat menentukan keberhasilan pengendalian hama tersebut.

Konsep pengendalian hama adalah untuk mengurangi serangga jantan dewasa (ngengat) sehingga serangga (ngengat) betina dewasa tidak menghasilkan telur. Oleh karena itu pemasangan Feromon Exi harus dilakukan satu minggu sebelum bibit bawang merah ditanam.

Pengendalian hama ulat grayak dapat juga menggunakan sungkup kain kasa. Cara ini dapat menekan populasi telur dan larva serta intensitas kerusakan tanaman yang secara tidak langsung juga mampu meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah umbi bawang merah. Kelambu kasa plastik tahan sampai 6–8 musim tanam. Di daerah Probolinggo sudah banyak diterapkan petani.

Pengendalian secara manual dengan cara mengumpulkan telur-telur S.exigua dari daun bawang yang terserang kemudian dibuang atau dibenamkan ke dalam tanah. Pengendalian dengan menggunakan insektisida botani yang berasal dari ekstrak akar tuba dan ekstrak ketapang dapat digunakan untuk mengendalikan hama S.exigua dengan dosis 2-4cc/liter air.

Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar. Yakni, pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya dan per giliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang S.exigu. Pengendalian hama dengan pestisida/insektisida tidak dianjurkan, selain dapat merusak lingkungan, membutuhkan biaya yang lebih besar juga dapat meninggalkan residu yang dalam jangka panjang bisa membahayakan bagi konsumen.

Ke depan untuk mengurangi serangan ulat grayak ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pengaturan peredaran pestisida oleh Pemda, termasuk di dalamnya rotasi peredaran pestisida. Kedua, memberikan pengajaran kepada petani tentang cara bijak pemanfaatan pestisida. Hal ini penting karena petani Brebes masih sangat sulit untuk dipisahkan dari pestisida. Ketiga, perlu dikenalkan teknologi pengendalian yang lain dalam koridor Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s